Dra. Catharina Kristiatmini, yang lebih dikenal dengan nama Nina Sarjulianto, merupakan pendiri Galeri Destiani sekaligus salah satu tokoh pelestari Kain Tenun Cual khas Bangka Belitung. Dengan dedikasi dan kecintaannya terhadap warisan budaya daerah, Nina berhasil mengembangkan kain tenun cual menjadi produk wastra yang dikenal luas hingga tingkat nasional dan internasional.
Perjalanan Nina di dunia tenun tradisional berawal dari ketertarikannya pada keindahan motif-motif khas Cual, terutama Bunga Ketuyut dan Lebah Pelawan, yang sarat akan nilai budaya Bangka Belitung. Kecintaannya tersebut mendorongnya untuk mengembangkan berbagai motif Cual dan mendaftarkannya sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia. Langkah ini kemudian menjadi fondasi berdirinya Galeri Destiani, yang didirikan sebagai wadah untuk memproduksi, melestarikan, dan mempromosikan kain tenun Cual.
Dalam mengembangkan usahanya, Nina mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Bangka Belitung dan Bank Indonesia. Melalui Galeri Destiani, ia berhasil memberdayakan para penenun lokal dengan mengoperasikan puluhan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM), sehingga turut membuka lapangan pekerjaan sekaligus menjaga keberlangsungan tradisi menenun di Bangka Belitung.
Berkat kerja keras dan komitmennya dalam mengangkat nilai budaya lokal, karya-karya Galeri Destiani telah digunakan oleh berbagai tokoh nasional dan dipromosikan dalam berbagai ajang bergengsi. Dedikasi tersebut mengantarkan Nina Sarjulianto meraih berbagai penghargaan, termasuk AWEN Award 2025 (ASEAN Women Entrepreneur Network Award) di Kamboja, sebagai bentuk pengakuan atas kontribusinya dalam melestarikan dan mengembangkan wastra tradisional Indonesia di tingkat internasional.
Melalui Galeri Destiani, Nina Sarjulianto terus berupaya menjadikan Kain Tenun Cual sebagai identitas budaya Bangka Belitung yang tetap lestari, bernilai ekonomi, dan mampu bersaing di pasar global.
"Bagi saya, Tenun Cual bukan sekadar kain, tetapi warisan budaya yang harus dijaga, dikembangkan, dan diwariskan kepada generasi mendatang."